View photo
  • #latepost #wallstiker
  • 2 weeks ago

Hujan Teman Launa

Sejenak ia memejamkan matanya. Bulu mata lentik yang membingkai di atas dan bawah mata itu kemudian bertemu. Cukup lama hal ini terjadi sampai kemudian mata itu kembali terbuka. Kali ini, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memperhatikan keadaan di sekitarnya. Setelah itu, beberapa detik saja mata itu kembali terpejam.

Nama gadis itu Launa. Ia sedang berdiri di depan sebuah jendela besar  di rumahnya. Gadis dengan lesung pipi ini tersenyum sumringah setelah beberapa detik memejamkan mata tadi. Gemericik air yang jatuh bersamaan di luar rumah membuat senyumnya semakin mengembang. Ia dengan seksama menatap rintik-rintik air hujan yang turun di taman belakang rumahnya itu.

Launa kemudian menyentuhkan jemarinya pada jendela besar di hadapannya. Ia mengikuti aliran air hujan yang jatuh di sana. Aliran air tersebut terus berkelok ke kanan dan ke kiri, begitu juga dengan jemarinya. Seakan-akan keduanya sedang menari bersama. Senyum Launa terus mengembang ketika melakukan hal itu.

Sesaat ia berhenti menatap jendela. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan. Seperti sedang mencari sesuatu atau mungkin seeseorang. Namun, tak ada siapa pun di rumah dengan luas 200 meter persegi itu. Hanya dirinya dan suara hujan yang ada di sana. Launa pun kemudian beranjak dari depan jendela tersebut. Ia berjalan menuju pintu yang jaraknya hanya sekitar satu meter dari sana. Ia membuka pintu tersebut dan ke luar dari rumah.

Launa kemudian berjinjit dan melompat pada rerumputan basah di halaman belakang rumahnya itu. Seketika air hujan membasahi tubuhnya. Ia kembali memejamkan mata dan membiarkan setiap air yang jatuh dari langit itu menjamahi dirinya. Tangannya mengadah ke atas seperti sedang menampung setiap tetes hujan itu di atasnya.

Rambut panjangnya yang tadi mengembang sekarang sudah lepek diguyur hujan. Rok merah sepanjang lutut yang ia kenakan juga sudah basah dan semakin melekat dengan tubuhnya. Lekukan tubuh dengan kulit putih itu kini terlihat lebih jelas. Bibirnya memucat, tidak semerah tadi. Namun, ia masih terus tersenyum.

Launa kemudian membuka matanya. Tangannya sudah tidak lagi mengadah ke atas. Sekarang ia melepas sepatu balet merah muda yang sedari tadi ia kenakan. Kedua tangannyaa kemudian melemparkan sepatu tadi asal-asalan. Setelah itu Launa menggerak gerakan jemari kakinya yang bearada di atas rumput basah. Sejenak ia tertegun hingga akhirnya melompat kegirangan.

Gadis dengan tinggi sekitar 170 centimeter itu sekarang sudah berada di tengah taman. Ia menari dan melompat ke sana ke mari. Sesekali tangannya mengusap wajahnya yang sudah terlanjur basah diserbu rintik hujan. Setelah itu, ia kembali tersenyum bahkan beberapa kali ia tertawa sendiri.

Launa kemudian berteriak sekuat tenaga. Urat-urat hijau di lehernya sampai terlihat ke luar. Namun, teriakannya tetap kalah dengan suara rintik hujan yang turun saat itu. Launa tidak peduli akan hal ini dan terus berteriak hingga ia kelelahan.

Tiba-tiba Launa menjatuhkan tubuhnya ke atas rerumputan. Ia berbaring di sana sambil terus tersenyum. Matanya kembali terpejam. Launa sangat senang hujan datang. Suaranya membuat rumah yang ia tinggali itu tidak sepi lagi. Kini, Launa menikmati hujan yang sudah ia anggap sebagai sahabat sejatinya di kala kesepian.

Erika Hidayanti

another story of Launa

View text
  • #me #fiction #story
  • 2 weeks ago
View photo
  • 2 months ago
  • 3530
Trip to remember. Karang Hawu, Mei 2013
View video
  • 3 months ago

Tulang tetaplah tulang, tetap menggigil tanpa diselimuti daging. Walaupun kokoh menopang tubuh, kami pun sama. Bagaimana pun kuatnya kami wanita tetap wanita

Wanita Tetap Wanita
View quote
  • 3 months ago
View photo
  • 3 months ago
x