Cerita Untuk Angin

Catch Your Dreams Before They Slip Away

24 Jul
Dear Israel,
You have been fighting Palestine for about 60 years now, using advanced weapons and America’s financial aid against a country that has no army, no weapons, no money and no central government. And you still haven’t managed to win. When will you get it? You can’t beat a country that is protected by Allah.

(via my-sacred-inspirations)

24 Jul

Sebuah Penantian

Oleh: Erika Hidayanti

Rintik hujan mengguyur kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak pagi itu. Lima anak muda berdiri di tengah kubangan lumpur yang terbentuk karena badai semalam. Tiga perempuan dan dua laki-laki. Semuanya menngenakan kaos berwarna putih dengan tulisan Menulis Untuk Keabadian pada bagian kanan depan kaos dan www.lpminstitut.com di pojok kiri bawah bagian belakang kaos.

Mereka semua bungkam. Ada yang menatap lurus ke depan, ada juga yang menunduk. Terdengar beberapa suara yang berbiacara  pada mereka, sebagian berteriak. Suara-suara itu terdengar berlomba dengan rintik hujan yang masih terus turun. Sesekali angin sepoi menerpa, membuat suasana semakin dingin.

Kabut tebal terlihat di sekeliling tempat mereka berdiri. Jarak pandang hanya sekitar lima meter ke depan. Ranting pohon juga banyak berserakan di mana-mana. Sebuah suara kemudian menginstruksikan kelima anak muda tadi untuk mengambil posisi push up. Serentak, mereka menelungkupkan badan hingga hampir setengahnya tenggelam dalam lumpur.

Dingin semakin menusuk ke dalam pori-pori kulit yang dibalut baju basah kuyup. Beberapa dari mereka menggeretakan gigi. Tangan-tangan mereka juga gemetar di bawah lumpur. Gerakan push up sedikit demi sedikit mereka lakukan dengan terus menahan dingin.

Tiba-tiba di tengah gerakan push up seorang gadis dengan jilbab merah dan kacamata berhenti. Ia meminta izin untuk membenarkan jilbabnya yang hampir lepas. Tangannya yang kotor karena lumpur gemetar memegang jilbab yang sedang ia tautkan dengan jarum. Berulang kali ia melakukannya, berulang kali juga jarum itu lepas. Empat orang lainnya menunggu sambil menelungkupkan badan di lumpur, merasakan dingin yang terus menusuk.

“Erika!! Cepat, teman-teman lu kedinginan tuh,” teriak seorang senior perempuan dengan jas hujan silver di depannya. Gadis bernama Erika itu masih terus berusaha menautkan jarum pada jilbab merahnya yang sebagian sudah kotor terkena lumpur. Akhirnya, jemari panjangnya berhasil menautkan jilbab dengan jarum itu.

Kabut tebal masih belum beranjak dari sana. Hujan semakin deras mengguyur. Kelima anak muda tadi berhenti melakukan push up dan kembali berdiri. Sekujur tubuh bagian depan mereka kotor tertutupi lumpur. Baju yang basah kuyup membuat lekukan badan mereka terlihat lebih jelas.

Tak lama, seorang gadis dipanggil dan meninggalkan keempat orang lainnya. Gadis itu berjalan menuju sebuah tanjakan dan menghilang dibalik dedaunan di sekitarnya. Beberapa menit berdiri, nama kedua dipanggil. Kali ini Erika yang dipanggil. Sejenak ia tertegun, membenarkan posisi kacamatanya dan baru berjalan menuju tanjakan yang dilewati gadis sebelumnya.

Tangannya sedikit gemetar ketika berjalan. Ia melewati beberapa ranting dan daun hingga  bertemu sebuah sungai kecil. Seorang senior memintanya untuk membersihkan diri di sungai itu. Gadis dengan perawakan kurus tersebut kemudian membenamkan dirinya ke air, membersihkan lumpur yang terpercik di wajahnya dan mengelap lengan-lengannya yang juga penuh lumpur.

Air sungai yang dingin mengalir saat itu terasa sejuk dan membuatnya nyaman. Cukup lama ia membenamkan diri pada aliran sungai itu. Sedikit demi sedikit ia mengelap bagian bajunya yang terkena lumpur. Hingga ia diminta berhenti dan keluar dari sungai untuk melanjutkan perjalanan.

Erika kembali berjalan melalui ranting dan dedaunan yang selalu ada di kanan dan kirinya. Ia hanya mengikuti senior di depannya hingga berhenti pada suatu tempat dengan sebuah bendera putih bertuliskan Lembaga Pers Mahasiswa INSTITUT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta  yang disimpan di atas dedaunan.

Seorang senior pria dengan jas hujan biru tua kemudian berbicara padanya. Erika memperhatikan setiap kata yang diucapkan pria di depannya. Dengan terus menatap mata lawan biacaranya sesekali ia menjawab pertanyaan yang diajukan. Pria itu kemudian memintanya mencium bendera putih tadi. Beberapa menit Erika mencium bendera itu, merasakan dingin yang menerpa wajahnya ketika mencium kain basah tersebut.

Selesai mencium bendera, pria berjas hujan biru tadi mengalungkan sebuah kartu dengan tali biru pada Erika. Pada kartu itu terdapat foto seorang gadis dengan kacamata dan jilbab hitam dengan tulisan PERS di sisi sebelah kirinya. Ya, itu adalah kartu pers yang dinantikan kelima anak muda yang berdiri di tengah hujan sejak pagi tadi.

24 Jul

Upah Minim Pegawai UIN Parking

Berdasarkan data keuangan UIN Jakarta, rata-rata penerimaan UIN Parkingsetiap bulan adalah Rp40 juta. Namun, penghasilan sebesar ini ternyata hanya mampu menggaji pegawai UIN Parking Rp750 ribu per orang setiap bulan. Gaji itu dianggap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama satu bulan. Seperti yang diungkapkan oleh Sopian Hadi, salah satu pegawai UIN Parking.

24 Jul

Nobar Debat Capres Tunjukan Kepedulian Mahasiswa

Pemilu presiden sudah semakin dekat. Antusias masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi tersebut semakin terlihat. Misalnya adalah dengan sengaja melakukan nonton bareng (nobar) debat calon presiden (capres). Salah satu kalangan yang giat melakukan kegiatan itu adalah mahasiswa. Mereka nobar di kafe, rumah kontrakan, warung kopi, hingga pinggir jalan.

24 Jul

Lewat Riset, Burhanuddin Muhtadi Berpolitik

Politik telah menjadi bagian hidupnya. Berbagai karya yang ia ciptakan selalu berkaitan dengan dunia politik. Namun, ia enggan menjadi seorang politisi. Keengganan inilah yang membuat ia mantap memilih riset sebagai jalan untuk berpolitik.

05 Jul

Biaya Kuliah PSPD Naik Hingga Rp 20 Juta

Berdasarkan Peraturan Rektor No.Un.01/R/HK.00.5/1/2011 tentang Biaya Pendidikan Program Strata Satu (S1) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun Akademik 2011/2012, menunjukan adanya kenaikan biaya kuliah Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD). Biaya PSPD semester 1yang sebelumnya Rp 62.750.000 menjadi Rp 90.665.000. Sedangkan biaya semester II dan seterusnya naik dari Rp 12.125.000 jadi Rp 20.015.000.

23 Jun shafaap:

Segar Beach, Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia.

shafaap:

Segar Beach, Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia.

23 Jun

Cari Solusi Perdamaian Dunia di Java MUN

Seluruh dunia tentu menginginkan perdamaian dan hidup sejahtera. Namun, nyatanya pada saat ini peperangan masih terjadi di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah perang saudara di Suriah. Negara kecil di timur tengah tersebut semakin hari semakin hancur. Warga sipil yang menjadi korban pun terus berjatuhan. Konflik antar dua kubu Islam, Syiah dan Sunni, ini seakan tidak bisa terselesaikan.

23 Jun

'One Health' Atasi Masalah Kesehatan

Hidup sehat dan bebas dari segala penyakit tentu  impian semua orang. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali ancaman penyakit di dunia ini. Bahkan, berbagai penyakit infeksi karena bakteri dan virus semakin beragam. Demi menangani hal tersebut para ahli kesehatan dunia terus mencari berbagai solusi, salah satunya dengan mencetuskan konsep One Health.

23 Jun

Militarization of Campus Security Upgrade

In order to enhance the quality of campus security system of Islamic State Jakarta, the director plans to change coaching management involving military staffs. The military’s function is to provide training and supervision of security performance. This also raises the issue of the existence of militarization in UIN Jakarta. Even, on 21 April, UIN Jakarta securities did peaceful protest as a form of denial of military entry on campus security sector.

23 Jun

Sukses Buah Manis Kerja Keras

Jalan menuju kesuksesan tidaklah mudah, banyak rintangan yang harus dilalui. Namun, dengan kerja keras kesuksesan tersebut akan terwujud. Hal ini diungkapkan oleh Puteri Muslimah 2014, Siti Nurmelia Baskarani dalam sebuah talk show di Teater lantai 1, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Senin (16/6).
18 Jun
Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati untuk menangis dan yang satu lagi untuk bersabar.

Kahlil Gibran (via indonesiasastra)

02 Jun khatulistiwa:

Kintamani, Bali - Indonesia by Eggy Sayoga

kece

khatulistiwa:

Kintamani, Bali - Indonesia by Eggy Sayoga

kece

10 Apr "travel is meeting you"
My new wall sticker :3
Masangnya bareng Farras sambil deg degan kaya lg apaan tau haha #latepost #wallstiker

"travel is meeting you"
My new wall sticker :3
Masangnya bareng Farras sambil deg degan kaya lg apaan tau haha #latepost #wallstiker

10 Apr

Hujan Teman Launa

Sejenak ia memejamkan matanya. Bulu mata lentik yang membingkai di atas dan bawah mata itu kemudian bertemu. Cukup lama hal ini terjadi sampai kemudian mata itu kembali terbuka. Kali ini, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memperhatikan keadaan di sekitarnya. Setelah itu, beberapa detik saja mata itu kembali terpejam.

Nama gadis itu Launa. Ia sedang berdiri di depan sebuah jendela besar  di rumahnya. Gadis dengan lesung pipi ini tersenyum sumringah setelah beberapa detik memejamkan mata tadi. Gemericik air yang jatuh bersamaan di luar rumah membuat senyumnya semakin mengembang. Ia dengan seksama menatap rintik-rintik air hujan yang turun di taman belakang rumahnya itu.

Launa kemudian menyentuhkan jemarinya pada jendela besar di hadapannya. Ia mengikuti aliran air hujan yang jatuh di sana. Aliran air tersebut terus berkelok ke kanan dan ke kiri, begitu juga dengan jemarinya. Seakan-akan keduanya sedang menari bersama. Senyum Launa terus mengembang ketika melakukan hal itu.

Sesaat ia berhenti menatap jendela. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan. Seperti sedang mencari sesuatu atau mungkin seeseorang. Namun, tak ada siapa pun di rumah dengan luas 200 meter persegi itu. Hanya dirinya dan suara hujan yang ada di sana. Launa pun kemudian beranjak dari depan jendela tersebut. Ia berjalan menuju pintu yang jaraknya hanya sekitar satu meter dari sana. Ia membuka pintu tersebut dan ke luar dari rumah.

Launa kemudian berjinjit dan melompat pada rerumputan basah di halaman belakang rumahnya itu. Seketika air hujan membasahi tubuhnya. Ia kembali memejamkan mata dan membiarkan setiap air yang jatuh dari langit itu menjamahi dirinya. Tangannya mengadah ke atas seperti sedang menampung setiap tetes hujan itu di atasnya.

Rambut panjangnya yang tadi mengembang sekarang sudah lepek diguyur hujan. Rok merah sepanjang lutut yang ia kenakan juga sudah basah dan semakin melekat dengan tubuhnya. Lekukan tubuh dengan kulit putih itu kini terlihat lebih jelas. Bibirnya memucat, tidak semerah tadi. Namun, ia masih terus tersenyum.

Launa kemudian membuka matanya. Tangannya sudah tidak lagi mengadah ke atas. Sekarang ia melepas sepatu balet merah muda yang sedari tadi ia kenakan. Kedua tangannyaa kemudian melemparkan sepatu tadi asal-asalan. Setelah itu Launa menggerak gerakan jemari kakinya yang bearada di atas rumput basah. Sejenak ia tertegun hingga akhirnya melompat kegirangan.

Gadis dengan tinggi sekitar 170 centimeter itu sekarang sudah berada di tengah taman. Ia menari dan melompat ke sana ke mari. Sesekali tangannya mengusap wajahnya yang sudah terlanjur basah diserbu rintik hujan. Setelah itu, ia kembali tersenyum bahkan beberapa kali ia tertawa sendiri.

Launa kemudian berteriak sekuat tenaga. Urat-urat hijau di lehernya sampai terlihat ke luar. Namun, teriakannya tetap kalah dengan suara rintik hujan yang turun saat itu. Launa tidak peduli akan hal ini dan terus berteriak hingga ia kelelahan.

Tiba-tiba Launa menjatuhkan tubuhnya ke atas rerumputan. Ia berbaring di sana sambil terus tersenyum. Matanya kembali terpejam. Launa sangat senang hujan datang. Suaranya membuat rumah yang ia tinggali itu tidak sepi lagi. Kini, Launa menikmati hujan yang sudah ia anggap sebagai sahabat sejatinya di kala kesepian.

Erika Hidayanti

another story of Launa